seperti nyala api yang menjilat dari tungku dan kemuadian menghilang dalam abu
seperti seorang penyair mencintai pikiran- pikiranya yang pedih
aku terpaku digiring oleh waktu
waktu membawaku sangat jauh
sementara bekal sedikit yang ku bawa
dalam perjalanan ku ceroboh sehingga terjatuh
tersandung batu atau masuk kedalam sumur
waktu kadang membawaku ketempat yang sama
tapi aku masih saja acuh terhadap batu dan sumur
lalu aku kembali terperosok
menyadari kesalahan
ingat kebodohan
tapi fana hari ini membutakan masa lalu
menyadari kekeras kepalaan
mendengar nasihat
tapi mahkota kesombongan mentahtai hati
betapa ganjil nya usia ku ini
menetapkan tujuan
namun tak mengenal konsistensi
menjalani kehidupan
sebagai mana air mengalir
dan lalu tersesat
0 comments:
Post a Comment