In

Mati sambil bernafas

Kamis-07-02-2013

    Hari-hari ku lalui. kadang menulis catatan harian, kadang tidak. sebagian aku posting di beberapa sosial media, sebagian lagi hanya berupa lembaran-lembaran kertas tak bersampul. aku tetap menulis. Banyak hal yang aku alami, diterima di Universitas impian ku, pergi jauh dari orang tua, menerima doktrin, pengkaderan anggota HMI, merasakan kisah cinta yang pedas, hari-hari yang keras, bertengkar dengan teman sekelas, dan mengendarai motor selama lebih dari 5 jam nonstop. jika kutulis semua kisah itu satu persatu saat hari itu juga (seharus nya begitu) akan menjadi sebuah catatan yang sangat menarik dan berharga, setidak nya untuk diriku sendiri, diri ku, disaat mungkin tua nanti. Tapi aku terlalu lelah untuk menulis pada hari itu juga. setelah melakukan berbagai aktivitas, aku hanya ingin diam dan beristirahat. memandangi langit-langit kamar ku dan menikmati setiap pemikiran yang keluar dari proses hidup yang telah ku lalui.

    Terkadang aku tidak benar-benar sadar, bahwa yang telah melalui hari-hari itu adalah aku. ternyata aku masih belum  betul betul tau, siapa aku, aku bahkan belum benar-benar mengenal siapa diri ku sendiri.

    Bagaimana batas kebenaran itu? yang seperti apa sesuatu dikatakan melebihi batas kebenaran dan dikatakan salah? yang seperti apa salah itu? jika hukum di dunia kapitalis ini bersifat flexibel. dulu pasangan sesama jenis di hujat, sekarang di perjuangkan ke legalan nya, dulu transgender diasingkan, sekarang di kagumi karena berani mempertahan kan pendapat nya. Apa sebenarnya mau dunia? Bagaimana ahir nya? dan dimana tempat ku di dunia ini? adakah aku ditempat yang tidak melebihi batas kebenaran?

    fikiran ku flashback ke beberapa hari yang lalu, ketika aku mengikuti LK 1 HMI. dan ahir nya lulus dengan predikat sangat baik. aku kira aku sudah menemukan siapa diri ku dan dimana tempat ku. menjalani proses ku, disini aku menemukan keluarga baru, belajar lebih dalam tentang kehidupan, fikiran-fikiran ku terbuka. aku.. sama sekali tidak menyesal telah memutuskan menjadi anggota organisasi ini, memang aku tipe orang yang tidak pernah menyesal dengan segala keputusan yang aku buat. segala konsekuensi telah aku fikirkan. disinilah aku.

    Lalu ketika aku ahir nya juga mencintai seseorang, bertahan terhadap rasa yang datang, pedas, sakit, aku tetap menikmati nya, aku kira aku sudah menemukan cinta ku. aku menikmati rasa yang datang, tapi tak berharap banyak. aku lebih menunggu orang yang mencintai ku, mencintai ku seperti tidak pernah ada orang yang dicintai sebelum nya. aku tidak pernah berharap terlalu banyak. tak ada hal yang paling menyakitkan di dunia ini selain harapan, apalagi harapan yang tidak pasti. tapi.. dunia ini sendiri memang tidak pasti. aku tidak pernah berharap terlalu besar pada apa pun. Bukan kah Tuhan tau apa yang terbaik bagi hambanya.. harapan bagi ku hanya omong kosong.

    Ketika ingat ketika aku bertengkar dengan teman sekelas ku, aku kira aku sudah benar-benar "BENAR".

    Kehidupan menggiring ku kepada pengalaman, dan pengalaman memperlihatkan kepada ku bagaimana manusia. dengan segala pemikiran nya. dan aku sadari bahwa pemikiran manusia tumbuh berdasarkan proses yang ia alami. proses yang mereka jalani pun berbeda, hasil nya tak ada pemikiran yang benar-benar mutlak sama. aku menarik kesimpulan semua yang mereka anggap BENAR memang TIDAK SALAH, karena mereka menganggap benar berdasarkan proses hidup dan pengalaman mereka sendiri, semua bukan tanpa alasan. sekarang bagi ku.. TIDAK ADA YANG SALAH, tidak ada pemikiran dan argumen yang salah. tapi KEBENARAN itu sendiri bagiku abu-abu.

    Aku terus mengikuti arus, waktu dan kehidupan itu sendiri terus menggiring ku kehadapan sang kesempatan. aku menelan setiap kesempatan yang datang, ingin hidup ku cukup berisi, tidak menghindari konflik, mencari tau setiap kemungkinan. semakin aku tau aku semakin melemah, aku melemah karena semakin lama aku menyadari bahwa aku sama sekali TIDAK BENAR, apa itu kebenaran jika semua orang kukuh argumen mereka adalah benar. apa itu benar? aku bilang dia abu abu. semakin lama aku semakin tau bahwa aku TIDAK TAU APA APA.

        Lalu aku bertanya apa ini adalah takdir? jalan hidup yang Allah telah tuliskan untuk ku, dan memang yang terbaik bagi ku. lalu apa yang akan selanjut nya terjadi? aku menunggu... sambil itu aku terus berproses, sedikit demi sedikit tabir terbuka. Jawaban kenapa aku harus berada disini, dan disinilah aku sekarang.  Aku belum sampai, aku masih terus berjalan. Aku belum MATI, juga TIDAK MAU mati sambil bernafas.


Related Articles

0 comments:

Post a Comment